
Bisakah anda bayangkan bagaimana rasanya jika anda divonis kehilangan fungsi salahsatu organ tubuh?
Tahun 2003, telinga kanan saya divonis kehilangan fungsi pendengarannya. Dideteksi dengan salahsatu alat khusus..saya gak mengerti namanya apa. Seorang dokter THT mendiagnosa saya bahwa syaraf lah penyebab ketulian tesebut. Beda halnya dengan infeksi atau radang telinga yang masih bisa diobati. Dengan terganggunya syaraf, tingkat pendengaran tidak dapat dikembalikan ke kondisi normal kecuali menggunakan alat bantu (hearing aid) atau bedah syaraf yang tentunya akan membutuhkan biaya yang sangat besar!
Mendengar vonis tersebut saya shock, mentally drop karena saya merasa jadi orang cacat, belum siap bertahan hidup dengan satu pendengaran meskipun dokter THT yang memeriksa saya waktu itu memberikan dukungan moril bahwa saya seharusnya masih bisa bersyukur karena pendengaran telinga kiri masih berfungsi dengan baik. Penggunaan hearing aid pun belum dirasa perlu. Saya hanya diminta menjaga baik-baik fungsi pendengaran telinga kiri. Salahsatunya dengan tidak mendengarkan musik dalam volume keras. “Hmm, apakah semudah itu???” pikirku waktu itu.
Sebuah awal yang berat ketika saya harus berkonsentrasi penuh pada saat seseorang disebelah kanan saya mengajak bicara. Saya harus membaca gerak bibir kalo tidak saya akan kelihatan seperti orang ga fokus, tidak menyimak pertayaan orang. Hal ini juga jadi tantangan ketika saya harus adaptasi kekurangan saya ini didunia kerja, berusaha keras malipatgandakan tingkat konsentrasiku dan menutupi ketulian telinga kananku dimata atasan dan rekan kerja. Capek kadang harus pura-pura normal waktu itu:-)
Makin hari saya makin menyadari bahwa saya tidak seharusnya menyesali kekurangan ini. Saya berusaha bangkit, terbuka, dan mengatakan kondisi sebenarnya kepada beberapa sahabat, rekan kerja, dan bahkan atasan saya . Dengan keterbukaan itu, hidup saya jauh lebih ringan tanpa beban.
Tidak ada gunanya lagi putus asa…toh orang-orang yang ditakdirkan cacat sejak lahirpun tidak pernah mengeluh akan kekurangnya. Banyak diantara mereka yang bangkit menjadi manusia kreatif dan berprestasi.
Terima kasih Tuhan atas semua karuniamu…

No comments:
Post a Comment