Sunday, January 31, 2010

Pelangi di langit Meruya

Suatu sore di Kampung Meruya, Jakarta Barat, disebuah ladang penuh tanaman hijau dan segar yang tertata rapi, sekelompok anak bermain dibawah langit cerah bergerimis.

Kecerian seketika berubah hening saat Pelangi muncul dilangit Meruya. Lukisan di media langit itu begitu indah. Merah, Kuning, Hijau..menyatu dalam sebuah lengkungan raksasa. Pelangi…kemana saja engkau? senang melihatmu kembali.

Ya, kami semua terpana…semua mata tertuju langit, menyaksikan Maha Karya Sang Pencipta.

The Other = Disaster


Selain kalimat berkonotasi negatif dan taboo, dimata saya PERSELINGKUHAN adalah suatu tindakan tidak terpuji, penyebab munculnya “bencana” bagi keutuhan sebuah hubungan. Saya yakin semua orang berpendapat sama kecuali para pelaku perselingkuhan.

Banyak terjadi, dengan adanya “The Other woman/ Man”, perceraian jadi solusi, patah hati berakhir bunuh diri, lebih extremenya lagi: pelenyapan sebuah nyawa demi sebuah hubungan gelap seperti di film-film bertema scandal. Uh, mengerikan!

lewat tulisan ini saya hanya ingin menyentuh para pelaku selingkuh menyadari bahwa Perselingkuhan adalah suatu Kesalahan Besar, Sooner or Later it will last as Disaster! Sadar akan akibat sebelum bertindak, Kendalikan Nafsu sebelum Maju melawan Api, Ingat anak sah jangan sampai bikin anak gelap, Hidup Fokus jangan Rakus, Sadar…Sadar…Scandal adalah Bencana!

Sulap ala Tuhan


Siapa yang tidak senang diberi kepercayaan oleh Sang Pencipta untuk memiliki anak? Semua wanita di jagat raya pasti merasakan kebahagian yang sangat luar biasa! Jangan tanya kenapa ada sebagian wanita yang terpaksa/ tidak terima vonis Hamil. Itu lain cerita! Maaf, aku lagi bicara hamil dalam konteks legal hehehe

Beruntung aku termasuk salahsatu perempuan yang sedang merasakan kebahagian tersebut. Bersyukur Sang Kholik menurunkan rejeki padaku begitu cepat.

Ini kehamilan pertamaku. Menyenangkan sekaligus tantangan berat untuk menjabat amanat Tuhan di fase pertama selama 9 bulan! Berbagai pertanyaan di otak bernada antusias dan pesimis campur aduk dalam satu ekspresi : BiNang (Bingung tapi Senang!). Bingung menghadapi kehamilan pertama tapi senang karena aku akan jadi calon Ibu.

Perubahan fisik dan psikis mulai terasa dan terlihat. Keajaiban! Itu yang bisa aku katakan dalam hati ketika perubahan itu muncul. Kenapa ajaib? karena aku melihatnya itu sebagai Sulap ala Tuhan! Yup, Ajaib! Tuhan menyulap perutku, mengisinya dengan sebuah nyawa lain didalamnya.

Bulan pertama, kedua, ketiga…seterusnya Tuhan terus mempertontonkan sulap didepan mataku dengan trik yang berlainan. Bulan ini adalah bulan ke 8 kehamilanku. Perutku semakin membesar. Kurasakan adanya gerakan didalam perutku seperti gelembung udara yang meletup letup. Aku membayangkan bayi dalam kandunganku sedang berenang dalam lautan plasenta.lucunya…

Aku ingin tahu trik apalagi yang akan Tuhan pertontonkan. Aku ingin rasakan semua keajaiban demi keajaiban yang diberikanNYA. Ya, seharusnya semua perempuan yang beruntung diberi keturunan mensyukuri nikmat ini. Anak adalah kado terindah dalam hidup!

Semoga perempuan-perempuan yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa anak sendiri dengan cara aborsi atau cara apapun menyadari kekeliruannya. Keajaiban kadang hanya datang sekali! Bagaimana jika Tuhan jera memberimu keturunan!?! Pikir baik baik jangan bertindak Bodohl! Seberat apapun masalah yang hadapi manusia, Tuhan pasti ada dibelakang kita untuk siap mem-back up!

Abstain!



Maraknya kampanye parpol, spanduk poster bergambar caleg betebaran dimana-mana, Kompetitifnya iklan parpol di TV, serunya debat antar caleg ternyata tidak cukup menarik perhatian saya.

Mungkin ini kali ya yang dinamakan mati rasa? Apatisme didiri saya muncul sebagai akumulasi kekecewaan terhadap kondisi negara yang secara global makin keropos. Diperparah dengan ‘bakteri-bakteri’nya menggerogoti rakyat tidak bersalah: Korupsi yang tidak pernah ada matinya, Suap & Disuap jadi ‘trend pelumas’ birokrasi, dan bejadnya moral beberapa legislator yang mudah dibutakan dengan uang, wanita, kekayaan dan kekuasaan. Masih banyak keborokan lainnya…

Wajar kan jika saya memutuskan untuk tidak menggunakan hak pilih di pemilu nanti?

Saya lebih nyaman dengan posisi abstain. Siap “diam” tanpa komentar lagi.

Alur cerita yang akan dibuat “sang sutradara’ pemenang kursi panas nanti seperti apa? negara mau dibawa kemana.Terserah!

Papaku Tidak Bersalah


Ada satu pemandangan unik ketika aku membesuk Kakak Iparku di lapas kerobokan Kuta –Bali Desember 2008.Saat itu aku bersama istri kakak ipar, keponakan dan suamiku tengah mengantri di loket pengambilan nomor besuk, seorang anak perempuan bule, berumur kurang lebih 7 tahunan berlari kesana kemari, menyapa setiap pembesuk dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Tingkahnya ceria, tidak malu malu untuk menyapa orang lebih tua sekalipun.

Giliran namaku dipanggil masuk keruang besuk. Anak itu berlari dan mendekati barisan kami. Menghampiri keponakanku, Angelica. Saling manatap akrab lalu bergandengan tangan.Tidak lama dia menyapaku “tante, saya ikut. Masuknya bareng yah”. Saya balik Tanya “Nama kamu siapa? Kamu datang kesini sendiri?”. Ternyata perempuan cilik itu bernama Fiola, dia datang bersama Ibunya yang berwarga Negara Swis. Dia menunjukan dimana posisi Ibunya. Perempuan bule setengah baya sedang duduk di ruang tunggu, asyik membaca sebuah buku tebal. Seolah tidak peduli dengan anak sematawayangnya, membiarkannya bermain sendiri mencari teman bicara diantara pengunjung pengunjung yang datang.

Lalu fiola bercerita “Papaku dipenjara. Sebenernya Papa ga bersalah, tante”. Aku tertegun sejenak, tersentuh oleh pembelaan seorang anak terhadap ayah tercintanya. Tanpa diminta dia meneruskan ceritanya, tanpa ada rasa sedih di raut mukanya “Aku sekarang tinggal di rumah teman papaku. Aku ga punya rumah disini dan sejak papaku dipenjara. Teman teman sekolahku banyak yang menjauhiku”. Ngenes dengernya tapi aku ga bisa bicara banyak “Ya sudah kamu sabar ya. Yuk kita masuk. Nama tante sudah dipanggil masuk tuh”. Aku pegang tanganya.Tiba di ruang besuk, Fiola langsung memisahkan diri dan menghampiri Papanya yang berwarga Swis. Tidak lama Ibunya menyusul bergabung dalam reuni keluarga.

RINDU PAPA Berbeda dengan Fiola, Angelica, keponakanku tidak pernah tau kenapa papanya masuk bui. Dia hanya tau Papanya sedang sekolah di kantor polisi. Sehari menjelang besuk, Angelica selalu menyiapkan kado sebagai tanda kerinduannya pada sang papa. Hari ini dia punya kado special.Ketika Papanya masuk mengampiri kami, Angelica langsung duduk di pangkuannya.Kami semua berbincang hangat melepas rindu. Angelica mengaluarkan kado dari tas plastik yang di tentengnya “Papa, Angelica punya kado buat Papa”. Lalu si Papa membukanya “Wah, gambarmu bagus sekali, sayang”. Sebuah gambar anak kecil yang digambarnya sendiri dan dinamainya Angelica. Lalu ada kado lain yang menyertai gambar itu, Sebuah Jam Meja bergambar Hello Kitty!. “Biar papa inget Angelica terus…” ujar Angelica. Si papa memeluk erat Angelica, membelai rambut dan mencium keningnya.

Tidak terasa 60 menit sudah kami didalam sana, Bel berbunyi kencang pertanda jam besuk berakhir sudah. Kami semua berdiri untuk beranjak pamit. “Papa, belnya bunyi, papa harus masuk kelas lagi ya?” Tanya Angelica. “Iya sayang, Papa masuk kelas dulu ya. Besok kamu kesini lagi ama mama, om dan aunty”. Angelica mengangguk. Kami berpamitan diakhiri pelukan perpisahan.Pelukan rindu Angelica untuk sang Papa….

Bocah Murung

Dalam suatu perjalanan ke Kampung Sampireun Boutique Resort(www.kampungsampireun.com) didesa Samarang, Garut - Jawa Barat, duduk didepanku seorang bocah laki-laki. Kebetulan untuk mencapai lokasi tersebut, aku harus menempuhnya dengan sebuah angkutan desa. Hanya ada 2 orang penumpang waktu itu, aku dan si bocah.

Aku perhatikan wajah bocah itu tampak begitu murung. Pikirannya seperti dibebani utang 2 milyar!

Ingin sekali bertanya apa yang terjadi tapi aku ga berani. Takut emosional…meneteskan air mata. Padahal anak itu sama sekali tidak berharap ditangisi.

Akhirnya hanya bisa merekam ekspresi wajah mumetnya dengan sebuah kamera HP. Aku pura-pura sms lalu aku bidik dia. Candidly! Jepret!

Semoga hatinya tidak semurung wajahnya. Siapa tau karakter wajahnya memang melankolis :-)

Semoga bukan bersedih karena tidak bisa sekolah seperti anak-anak di kota ya, Jang.

Semoga wajah murungnya tidak mewakili wajah anak-anak desa lainnya karena keceriaan itu milik semua orang.

Cheer Up, kiddo! There’s a beauty in sadness…

Aku dan "Baju Liliput"


Ini bukan iklan sabun pencuci pakaian, bukan pula iklan baby clothes.

Hanya sebuah foto jepretan iseng nyokap waktu aku merapikan baju-baju calon babyku tadi sore. Katanya aku kelihatan excited waktu melipat baju-baju baby itu.

Nyokap benar, aku memang bahagia sekali. Pokoknya tidak cukup terekspresikan dengan kata-kata. Aku suka sekali melihatnya…lucu dan imut seperti baju “liliput”, membuatku semakin tidak sabar untuk menyambut kehadiran Boneka Hidup yang sekarang masih meringkuk di perutku ;-)

“Nak, Insyaallah hanya hitungan hari lagi.Semoga perjalananmu ke dunia ini lancar yah.Mama tunggu….”